Diawasi olehLogo
← Kembali ke Glossary

Secondary Traumatic Stress

Lanjutan
Juga dikenal sebagai: Stres Traumatik Sekunder, Vicarious Trauma

Tekanan emosional yang muncul akibat terpapar secara tidak langsung pada trauma orang lain, sering dialami oleh mereka yang mendengar atau menangani cerita traumatis sebagai bagian dari pekerjaan.

Apa Itu Secondary Traumatic Stress?

Secondary traumatic stress (STS), atau vicarious trauma, adalah tekanan emosional yang muncul dari terpapar secara tidak langsung pada trauma orang lain — bukan mengalami trauma sendiri, tapi terdampak karena mendengar atau menyaksikan trauma orang lain. Ini umum dialami konselor, tenaga kesehatan, HR, dan siapa pun yang pekerjaannya melibatkan mendengar cerita-cerita yang menyakitkan.

Relevansi untuk Karyawan Indonesia

STS relevan bagi mereka yang berada dalam peran membantu di tempat kerja — termasuk konselor, peer supporter, dan staf HR yang menampung masalah karyawan. Mengingat beratnya distress yang terungkap dalam data Riliv, mereka yang menangani cerita-cerita ini berisiko mengalami STS. Penting diakui bahwa para pemberi dukungan juga membutuhkan dukungan; tanpa itu, mereka berisiko burnout atau compassion fatigue.

Tanda-Tanda Secondary Traumatic Stress

  • Ingatan intrusif tentang cerita orang lain
  • Kelelahan emosional dari mendengar trauma
  • Perubahan cara pandang terhadap dunia (lebih curiga, cemas)
  • Mati rasa atau menjaga jarak emosional
  • Gangguan tidur atau mimpi terkait
  • Berkurangnya kemampuan berempati seiring waktu

Apa yang Bisa Dilakukan

Mencegah STS membutuhkan pengakuan bahwa mendengar trauma itu berat. Strategi yang membantu mencakup supervisi profesional, batasan emosional yang sehat, dukungan sebaya, dan perawatan diri. Organisasi yang mengandalkan pekerja yang menangani masalah orang lain — termasuk tim HR dan kesehatan mental — harus menyediakan struktur dukungan bagi mereka, bukan menganggap mereka kebal.

Catatan: Glossary ini bersifat edukatif dan bukan pengganti diagnosis atau penanganan profesional. Jika kamu atau rekan kerjamu sedang dalam tekanan berat, hubungi layanan kesehatan jiwa Kemenkes di 119 ext 8, atau bicara dengan psikolog berlisensi.

Rujukan & Sumber Otoritas

  1. Figley (1995) — Compassion Fatigue; Bride et al. (2004) STS Scale
  2. McCann & Pearlman (1990) — Journal of Traumatic Stress (vicarious trauma)
  3. Data internal Riliv Problem Taxonomy v1.0 (2026)

Klaim berbasis data Riliv merujuk pada Clinical Evidence Riliv (Riliv Problem Taxonomy v1.0, 2026 — n=1.241 sesi konseling DASS-21 + 9.806 survey, 28 perusahaan).

Riliv — Better Mind, Better You

Kamus ini disusun Riliv sebagai sumber edukasi kesehatan mental kerja untuk HR, pemimpin, dan karyawan Indonesia. Data riset bersumber dari Riliv Problem Taxonomy v1.0 (2026): analisis 1.241 sesi konseling ber-DASS-21 dan 9.806 survey response dari 28 perusahaan klien Riliv lintas 8 kluster industri.

Butuh bantuan? Layanan kesehatan jiwa Kemenkes: 119 ext 8. Untuk dukungan kesehatan mental karyawan di organisasimu, kunjungi riliv.co.

Catatan metodologis: angka prevalensi (mis. 69,4% Anxiety Severe+) berasal dari populasi karyawan yang sudah mencari bantuan konseling, bukan populasi karyawan Indonesia umum. Glosarium ini bersifat edukatif dan bukan pengganti diagnosis atau penanganan profesional.