Employee Net Promoter Score (eNPS)
Metrik yang mengukur seberapa besar kemungkinan karyawan merekomendasikan perusahaannya sebagai tempat kerja, digunakan sebagai indikator keterlibatan dan kepuasan karyawan.
Apa Itu eNPS?
Employee Net Promoter Score (eNPS) mengadaptasi konsep Net Promoter Score dari Reichheld (2003) ke konteks karyawan. eNPS mengukur seberapa besar kemungkinan karyawan merekomendasikan perusahaannya sebagai tempat bekerja, biasanya lewat satu pertanyaan skala. Skor dihitung dari selisih persentase promoter dan detractor, menghasilkan angka yang mudah dilacak.
Relevansi untuk Karyawan Indonesia
eNPS adalah indikator kesehatan organisasi yang sering berkorelasi dengan kesejahteraan karyawan. Sebagai pembanding, Riliv mencatat NPS Riliv +63,7 vs benchmark EAP global +30–50 dari penggunanya. Data Riliv juga menunjukkan ada kaitan antara kepuasan karyawan dan kualitas layanan — ketika karyawan tidak bahagia, layanan ke pelanggan cenderung menurun. eNPS membantu menangkap sinyal ini lebih awal.
Cara Kerja
- Karyawan menilai kemungkinan merekomendasikan perusahaan (skala 0–10)
- Promoter (9–10), Pasif (7–8), Detractor (0–6)
- eNPS = % Promoter − % Detractor
- Skor dilacak dari waktu ke waktu untuk melihat tren
Catatan Penting
eNPS adalah indikator yang berguna tapi tidak lengkap — ia menunjukkan ada masalah, bukan apa masalahnya. Skor rendah sebaiknya menjadi titik awal untuk menggali lebih dalam, bukan akhir analisis. Dikombinasikan dengan asesmen kesejahteraan seperti RWI atau DASS-21 agregat, eNPS memberi gambaran yang lebih utuh tentang kondisi tenaga kerja.
Rujukan & Sumber Otoritas
- Reichheld (2003) — HBR 'The One Number You Need to Grow'
- Riketta (2008) — Journal of Applied Psychology (meta-analysis)
- Data internal Riliv Problem Taxonomy v1.0 (2026), NPS +63,7
Klaim berbasis data Riliv merujuk pada Clinical Evidence Riliv (Riliv Problem Taxonomy v1.0, 2026 — n=1.241 sesi konseling DASS-21 + 9.806 survey, 28 perusahaan).