Diawasi olehLogo
back
Resources/Artikel
articleArtikel • Updated 2026

Multitasking Bukan Skill, Ini yang Sebenarnya Terjadi ke Otak Kamu

9 menit baca
•Dibuat 26 Agustus 2026
whatsapp
linkedin
mail

Multitasking Bukan Skill, Ini yang Sebenarnya Terjadi ke Otak Kamu

Ada satu kata yang selama bertahun-tahun jadi kebanggaan di CV dan wawancara kerja: multitasking. Kemampuan menangani banyak hal sekaligus dianggap tanda kompetensi tinggi dan efisiensi kerja. Tapi riset neurosains selama dua dekade terakhir menunjukkan sesuatu yang mengejutkan: multitasking, dalam artian benar-benar mengerjakan beberapa hal kompleks secara bersamaan, sebenarnya secara fisiologis hampir mustahil dilakukan otak manusia.

Apa yang Sebenarnya Terjadi: Bukan Multitasking, tapi Task-Switching

Istilah multitasking menyiratkan kemampuan melakukan banyak tugas secara bersamaan. Namun, apa yang kebanyakan orang anggap sebagai multitasking sebenarnya adalah task-switching. Perhatian manusia punya keterbatasan, dan otak memproses informasi secara serial, bukan paralel, ketika berhadapan dengan tugas kognitif tingkat tinggi yang disadari.

Untuk memahami kenapa multitasking mustahil bagi otak manusia, bayangkan otak punya semacam penjaga pintu yang hanya membiarkan satu pemikiran kompleks lewat dalam satu waktu. Neurosaintis menyebut ini central bottleneck theory, salah satu temuan yang paling banyak direplikasi dalam psikologi kognitif. Seorang psikolog di Vanderbilt University menemukan otak menunjukkan “response selection bottleneck” ketika diminta mengerjakan beberapa tugas sekaligus. Karena ada dua tugas yang bersaing, otak harus memilih aktivitas mana yang lebih penting, dan proses memilih ini yang memakan waktu.

Kenapa Berpindah Tugas Punya Biaya Tersembunyi

Riset menunjukkan berpindah antar tugas menimbulkan biaya waktu, peningkatan kesalahan, dan penurunan efisiensi keseluruhan. Ketidakefisienan ini semakin parah kalau tugas yang dikerjakan kompleks atau belum familiar. Sebuah studi menguji ide bahwa multitasking meningkatkan performa karena memberi “sudut pandang segar” pada masalah. Partisipan mengerjakan teka-teki sudoku dan pencarian kata, baik secara berurutan, berpindah setiap empat menit, atau memilih sendiri kapan berpindah. Kedua kelompok yang multitasking mendapat skor jauh lebih rendah dibanding kelompok yang mengerjakan teka-teki secara berurutan. Biaya berpindah tugas, seperti harus mengingat kembali aturan dan detail, ternyata lebih besar dibanding manfaat dari sudut pandang segar tersebut.

Dampak ke Performa Kognitif yang Terukur

Salah satu temuan yang paling banyak dibahas adalah multitasking bisa menurunkan performa kognitif terukur, termasuk memori kerja, penalaran, dan kontrol perhatian. Beberapa peneliti membandingkan penurunan performa ini setara kehilangan sekitar sepuluh poin IQ selama periode multitasking berat. Penting dipahami, ini bukan berarti multitasking menurunkan kecerdasan seseorang secara permanen. Tapi ini berarti otak berfungsi kurang efektif ketika perhatian terfragmentasi di berbagai stimulus yang bersaing. Efek ini bersifat sementara, terjadi selama periode multitasking berlangsung, bukan perubahan permanen pada kapasitas kognitif seseorang.

Kenapa Merasa Produktif Tidak Sama dengan Benar-Benar Efisien

Orang sering merasa produktif saat multitasking karena mereka merasa sangat terstimulasi dan sibuk. Tapi neurosains berulang kali menunjukkan merasa sibuk tidak sama dengan benar-benar berfungsi secara efisien. Ini poin penting yang menjelaskan kenapa kebiasaan multitasking begitu sulit dihilangkan meski terbukti kurang efektif. Sensasi kesibukan yang ditimbulkan memberi kepuasan psikologis tersendiri, meski hasil aktual yang dihasilkan justru lebih rendah kualitasnya dibanding kalau fokus pada satu tugas dalam satu waktu.

Menariknya, yang Paling Percaya Diri Belum Tentu Paling Hebat

Sebelum kamu mendiagnosis diri sendiri sebagai jago multitasking, penelitian menemukan sebagian besar orang yang percaya mereka multitasker unggul justru sebenarnya yang paling buruk melakukannya. Mereka yang paling sering multitasking justru melakukannya karena kurang mampu menghalau distraksi dan fokus pada satu tugas, bukan karena itu kekuatan mereka. Kebiasaan itu bukan tanda kekuatan, tapi gejala. Riset menemukan hanya sekitar 2,5% populasi yang benar-benar bisa menangani dua tugas kognitif kompleks tanpa penurunan performa sama sekali, kelompok yang disebut peneliti sebagai “supertasker.” Angka 2,5% ini penting sebagai pengingat: kemungkinan besar, siapa pun yang membaca artikel ini bukan termasuk kelompok langka tersebut, dan itu sepenuhnya normal, karena mayoritas manusia memang tidak dirancang secara biologis untuk multitasking sejati.

Dampak Jangka Panjang yang Perlu Diwaspadai

Sebuah studi dari University of Sussex menemukan orang yang secara rutin multitasking menunjukkan densitas otak lebih rendah di area yang bertanggung jawab atas empati dan kontrol kognitif. Task-switching yang konstan mungkin membentuk ulang otak dengan cara yang mengurangi kemampuan mengelola emosi dan membuat keputusan yang matang. Salah satu temuan yang cukup mengkhawatirkan adalah task-switching berulang bisa melatih otak menjadi lebih mudah terdistraksi seiring waktu, bukan justru semakin terbiasa dan efisien menanganinya. Temuan ini penting karena membalikkan asumsi umum bahwa “practice makes perfect” berlaku untuk multitasking. Alih-alih semakin mahir, latihan multitasking yang berulang justru berisiko melatih otak untuk semakin sulit fokus pada satu hal, sebuah pola yang berlawanan dengan yang diharapkan orang.

Temuan semacam ini yang jadi salah satu pertimbangan di balik format sesi konseling Riliv. Sesi dirancang sebagai ruang bicara satu topik pada satu waktu, bukan format multi-channel yang justru menambah beban task-switching pada karyawan yang otaknya sudah terlatih untuk terus berpindah fokus sepanjang hari kerja. Prinsip yang sama berlaku pada AI Companion di WhatsApp, dirancang untuk percakapan yang mengalir dan fokus pada satu isu yang sedang dihadapi, bukan dashboard multi-fitur yang harus dipantau bersamaan.

Ada Sedikit Ruang untuk Peningkatan, tapi Terbatas

Meski gambaran umumnya cukup jelas soal keterbatasan multitasking, ada nuansa yang perlu dipahami. Ada sisi baiknya: latihan ekstensif bisa meningkatkan performa multitasking dengan meningkatkan kecepatan pemrosesan di korteks prefrontal. Meski tidak akan menjadi supertasker sejati, seseorang bisa menjadi lebih baik untuk kombinasi tugas tertentu lewat latihan yang disengaja. Riset lebih baru menunjukkan mungkin ada jalur lebih panjang menuju kemampuan multitasking, di mana otak bisa mengembangkan semacam cara alternatif, meski butuh waktu dan pengulangan yang signifikan. Nuansa ini penting supaya artikel ini tidak terkesan mengklaim multitasking sepenuhnya mustahil dalam segala kondisi, tapi tetap menegaskan bahwa untuk mayoritas orang dan mayoritas kombinasi tugas kompleks, keterbatasan yang dibahas di atas tetap berlaku.

Implikasi Praktis untuk Cara Kerja Sehari-Hari

Memahami sains di balik multitasking membuka cara berpikir yang berbeda soal bagaimana menyusun hari kerja. Alih-alih memaksakan diri menangani banyak hal sekaligus demi merasa produktif, fokus pada satu tugas dalam satu waktu (yang kadang disebut monotasking) justru cenderung menghasilkan kualitas kerja lebih baik dan tingkat kesalahan lebih rendah, meski secara sensasi terasa kurang “sibuk” dibanding melompat antar berbagai hal sekaligus.

Ini juga berarti mengevaluasi ulang ekspektasi soal diri sendiri atau anggota tim yang terus-menerus mencoba menangani banyak hal bersamaan. Alih-alih menganggap ini sebagai tanda dedikasi tinggi, penting menyadari pola ini justru bisa jadi tanda kesulitan mengelola prioritas atau lingkungan kerja yang terlalu banyak menuntut perhatian secara bersamaan.

Kenapa Ini Relevan untuk Kebijakan di Tempat Kerja

Pemahaman ini punya implikasi lebih luas dari sekadar kebiasaan personal. Kalau lowongan kerja masih mencantumkan “kemampuan multitasking” sebagai kriteria yang dicari, ini sebenarnya meminta sesuatu yang secara biologis sulit dipenuhi kebanyakan orang. Deskripsi pekerjaan yang lebih akurat mungkin lebih baik menekankan kemampuan mengelola prioritas dan berpindah tugas secara efisien, dibanding mengharapkan seseorang benar-benar melakukan banyak hal kompleks secara bersamaan tanpa penurunan kualitas. Organisasi yang memahami keterbatasan ini juga bisa merancang lingkungan kerja yang lebih mendukung fokus, alih-alih terus-menerus menuntut karyawan menangani berbagai saluran komunikasi dan tugas secara bersamaan sebagai standar normal operasional sehari-hari.

FAQ

Apakah semua bentuk melakukan dua hal sekaligus itu buruk? Tidak. Otak manusia punya arsitektur pemrosesan serial untuk tugas kompleks, tapi kita tetap bisa berjalan sambil mengunyah permen karet, karena itu proses otomatis yang berjalan paralel. Masalahnya muncul saat mencoba menyusun email penting sambil berpartisipasi aktif dalam rapat, dua hal yang sama-sama membutuhkan perhatian sadar tingkat tinggi.

Bagaimana cara tahu apakah saya termasuk kelompok langka “supertasker”? Sangat kecil kemungkinannya, mengingat hanya 2,5 persen populasi yang termasuk kategori ini. Cara paling realistis adalah mengasumsikan diri sendiri seperti mayoritas orang lain, dan fokus memperbaiki pola kerja alih-alih berusaha membuktikan diri sebagai pengecualian.

Apakah kebiasaan multitasking bisa diubah? Bisa, dengan latihan sadar membiasakan diri fokus pada satu tugas dalam satu waktu, mengurangi sumber distraksi, dan menyusun jadwal kerja yang mengelompokkan tugas serupa alih-alih berpindah acak sepanjang hari.

Apakah anak muda yang tumbuh dengan teknologi lebih jago multitasking dibanding generasi sebelumnya? Tidak ada bukti kuat yang mendukung klaim ini. Keterbatasan biologis otak manusia dalam memproses tugas kognitif kompleks secara serial berlaku universal, terlepas dari seberapa terbiasa seseorang dengan teknologi sejak usia muda.

Kalau organisasi ingin membantu tim menemukan pola kerja yang lebih fokus dan berkelanjutan, bukan sekadar terlihat sibuk sepanjang hari, bisa langsung klik di sini.


Rujukan & Sumber Otoritas

  1. American Psychological Association (APA) (2006) — "Multitasking: Switching Costs"
  2. Vanderbilt University (2007) — "Neural Bottleneck Found That Thwarts Multi-tasking" (riset Rene Marois, response selection bottleneck)
  3. Pashler, H. (1984) — "Processing Stages in Overlapping Tasks: Evidence for a Central Bottleneck"
  4. Psychological Research / Springer, via PMC (2022) — "The Working Memory Costs of a Central Attentional Bottleneck in Multitasking"
  5. Watson, J.M. & Strayer, D.L. (2010) — "Supertaskers: Profiles in Extraordinary Multitasking Ability" — Psychonomic Bulletin & Review
  6. University of Utah, via EurekAlert (2010) — "Few Drive Well While Yakking on Cell Phones"
  7. Loh, K.K. & Kanai, R. (2014) — "Higher Media Multi-Tasking Activity Is Associated with Smaller Gray-Matter Density in the Anterior Cingulate Cortex" — PLOS ONE (University of Sussex)
  8. Data internal Riliv, pola observasional kecemasan lintas organisasi, agregat dan teranonimisasi, dari puluhan organisasi lintas industri di Indonesia.

Jelajahi Artikel Lainnya

Tanda-tanda Burnout di Organisasi yang Sering Tidak Disadari HR
Artikel
Tanda-tanda Burnout di Organisasi yang Sering Tidak Disadari HR

52% karyawan melaporkan mengalami burnout kronis. Tapi tanda-tandanya di level organisasi sering terlewat oleh HR. Artikel ini mengulas 7 sinyal yang perlu kamu perhatikan sebelum terlambat.

13 menit baca• Artikel
Baca Selengkapnya
Cara Mengurangi Turnover Karyawan: 6 Strategi yang Terbukti Efektif
Artikel
Cara Mengurangi Turnover Karyawan: 6 Strategi yang Terbukti Efektif

Kehilangan satu karyawan bisa menelan biaya setara 6-9 bulan gajinya. Artikel ini membahas 6 strategi berbasis data untuk menekan turnover, termasuk peran penting kesehatan mental dan EAP.

12 menit baca• Artikel
Baca Selengkapnya
Kecemasan Karyawan Pemegang Saham (ESOP/Stock Option): Tekanan Baru di Balik Insentif Ekuitas
Artikel
Kecemasan Karyawan Pemegang Saham (ESOP/Stock Option): Tekanan Baru di Balik Insentif Ekuitas

ESOP dijanjikan sebagai insentif masa depan, tapi buat banyak karyawan startup, opsi saham ini justru jadi sumber cemas baru. Ini alasannya dan peran HR di dalamnya.

11 menit baca• Artikel
Baca Selengkapnya
Kesehatan Mental Teknisi Lapangan: Tekanan Target SLA dan Mobilitas Tinggi yang Jarang Dibahas
Artikel
Kesehatan Mental Teknisi Lapangan: Tekanan Target SLA dan Mobilitas Tinggi yang Jarang Dibahas

Teknisi lapangan menanggung target SLA, mobilitas tinggi, dan komplain pelanggan tanpa banyak dukungan dari tim kantor. Ini dampaknya dan yang bisa dilakukan HR.

12 menit baca• Artikel
Baca Selengkapnya