Di hampir setiap perusahaan ada satu lapisan tenaga kerja yang menjaga operasional tetap berjalan, tapi jarang masuk hitungan ketika bicara kesejahteraan. Petugas kebersihan, keamanan, staf admin kontrak, tim proyek yang direkrut lewat vendor. Ketika program wellbeing digulirkan, konseling ditawarkan, atau town hall soal kesehatan mental diadakan, mereka sering tidak termasuk. Alasannya terdengar wajar di rapat: "kan mereka bukan karyawan tetap".
Cara pandang itu punya biaya yang jarang dihitung. Karyawan kontrak dan outsource menghadapi satu tekanan yang justru lebih berat daripada rekan tetap mereka, yaitu ketidakpastian, dan ketidakpastian kerja terbukti menjadi stressor yang merusak kesehatan mental. Artikel ini membahas siapa yang sedang kita bicarakan, kenapa status tidak tetap membebani secara mental, kenapa mengabaikannya merugikan perusahaan, dan apa yang bisa dilakukan HR dan pemimpin.
Ada dua status yang sering disamakan padahal berbeda. Karyawan kontrak direkrut langsung oleh perusahaan lewat Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), dengan jangka waktu dan hak yang tertulis. Karyawan outsource atau alih daya dipekerjakan lewat perusahaan penyedia jasa pihak ketiga, umumnya untuk pekerjaan penunjang seperti kebersihan, keamanan, atau katering. Keduanya sah secara hukum dan diatur dalam UU Ketenagakerjaan beserta perubahannya lewat UU Cipta Kerja dan PP 35/2021, yang antara lain memberi perusahaan fleksibilitas lebih besar dalam mengalihdayakan pekerjaan.
Perlu dicatat, regulasi soal outsourcing di Indonesia terus berkembang, termasuk wacana penataan ulang sistem alih daya yang muncul belakangan. Terlepas dari arah kebijakannya, satu hal tetap sama: karyawan berstatus tidak permanen adalah bagian nyata dari tenaga kerja, dan kesehatan mental mereka sama pentingnya. Secara hak dasar, pekerja kontrak dan outsource tetap berhak atas jaminan sosial seperti BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Lapisan dukungan di atas hak minimum itu, termasuk dukungan psikologis, justru sering terlewat.
Sebagai catatan data: basis data internal Riliv pada segmen karyawan berstatus kontrak dan outsource saat ini masih relatif terbatas untuk disimpulkan sebagai pola yang representatif secara kuat. Tema seputar ketidakpastian status kerja termasuk salah satu tema yang konsisten muncul dalam curhatan pada kelompok ini, sehingga layak menjadi perhatian meski belum dapat dikuantifikasi. (Sumber: data internal Riliv, agregat dan teranonimisasi.). Temuan yang menyentuh data Riliv dalam artikel ini bersumber dari analisis data skrining kesejahteraan dan konseling yang dikumpulkan lewat platform Riliv: ribuan sesi konseling dan puluhan ribu respons skrining karyawan dari puluhan organisasi lintas industri di Indonesia. Data ini bersifat observasional, dikumpulkan dalam konteks pemberian layanan EAP, dan disajikan secara teragregat serta dianonimkan.
Inti persoalannya ada pada ketidakpastian yang menyertai status kontrak atau outsource, bukan pada labelnya. Dalam penelitian kesehatan kerja, ketidakpastian kerja atau job insecurity sudah lama dipahami sebagai stressor kronis, dan buktinya cukup konsisten. Sebuah meta-analisis studi longitudinal menemukan job insecurity berdampak buruk pada kesehatan mental, dengan summary odds ratio sekitar 1,52, dan efek dosis-respons yang jelas untuk depresi dan kecemasan, artinya makin tinggi rasa tidak aman, makin besar risikonya (Rönnblad dkk., SJWEH, 2019). Studi yang sama mencatat kenaikan risiko absolut sekitar 32 sampai 48 persen pada populasi tertentu, dan ketika beberapa dimensi ketidakpastian menumpuk sekaligus, odds ratio-nya naik menjadi sekitar 2,01. Sebuah studi berjangka lima tahun di Jerman yang memakai kuesioner skrining gejala depresi terstandar menemukan job insecurity termasuk prediktor gejala depresi pada laki-laki di masa tindak lanjut (S-MGA, 2022).
Ada satu temuan yang penting untuk menggeser cara pandang. Studi longitudinal menemukan job insecurity berdampak buruk pada kesehatan baik pada karyawan tetap maupun tidak tetap, dengan besar efek yang serupa di kedua kelompok (Hammarström dkk., 2011). Rasa tidak aman merugikan siapa pun yang merasakannya, dan karyawan kontrak serta outsource hidup di dalam rasa itu setiap hari.
Tinjauan kualitatif memetakan empat pengalaman inti dari kerja yang tidak pasti: ketidakstabilan finansial, ketidakpastian waktu, status yang terpinggirkan, dan rasa tidak aman atas pekerjaan. Keempatnya bergerak menjadi stres, kecemasan, depresi, serta hal-hal seperti moral yang rendah, harga diri yang turun, frustrasi, dan rasa bersalah (Irvine & Rose, 2024).
Kalau diterjemahkan ke keseharian, beban itu punya beberapa bentuk yang khas.
Pertama, tidak bisa merencanakan hidup. Ketika kontrak habis dalam hitungan bulan dan perpanjangan tidak pasti, hal-hal biasa seperti mengajukan cicilan, menikah, atau memutuskan pindah kos terasa penuh risiko. Beban ini kronis karena tidak pernah benar-benar selesai.
Kedua, tekanan membuktikan diri tanpa henti. Karyawan tidak tetap sering merasa harus tampil sempurna terus-menerus agar kontraknya diperpanjang, tanpa jaring pengaman yang dimiliki rekan tetap. Energi yang habis untuk terus membuktikan diri ini jarang terlihat dari luar.
Ketiga, rasa bukan bagian dari tim. Ketika undangan pelatihan, apresiasi, atau bahkan info penting kerap tidak sampai ke mereka, muncul status yang terpinggirkan seperti yang dijelaskan penelitian di atas. Rasa terpinggir ini secara langsung menekan harga diri.
Keempat, lapisan dukungan yang lebih tipis. Selain perbedaan fasilitas dibanding karyawan internal, mereka sering luput dari program kesejahteraan. Untuk pekerja outsource, ada tambahan ketidakpastian dari kemungkinan pergantian vendor dan jarak dari perusahaan tempat mereka sebenarnya bekerja setiap hari.
Rasa tidak aman ini adalah tekanan yang nyata dan terukur, dan itu tidak sama dengan seseorang yang kurang bersyukur atas pekerjaannya. Memvalidasi hal ini adalah langkah pertama sebelum menawarkan solusi apa pun.
Argumen untuk memasukkan karyawan kontrak dan outsource ke dalam perhatian kesejahteraan tidak berhenti pada alasan moral, meski alasan moral saja sudah cukup kuat. Ada juga alasan bisnis yang nyata. Karyawan tidak tetap sering berada di garis depan operasional dan menjadi wajah perusahaan bagi pelanggan. Ketika mereka kelelahan mental, cemas soal masa depan, atau merasa tidak dianggap, dampaknya terasa pada kualitas kerja dan layanan. Bukti soal job insecurity menunjukkan kaitannya dengan menurunnya kesejahteraan psikologis dan keterlibatan kerja, yang berujung pada performa yang lebih rendah dan niat untuk keluar. Kaitan antara kesejahteraan dan retensi.
Ada juga efek yang hampir nggak terasa. Ketika sebagian tenaga kerja diperlakukan sebagai lapis kedua, terbentuk budaya dua kelas yang bisa mengikis kepercayaan seluruh organisasi, termasuk di mata karyawan tetap yang menyaksikannya. Karyawan yang tidak merasa aman juga cenderung memendam masalah, sejalan dengan pola diam yang kami bahas di kenapa banyak karyawan memilih diam. Perusahaan menikmati hasil kerja mereka, jadi wajar bila sebagian tanggung jawab atas kesejahteraan mereka ikut dipikul.
Banyak dari hal ini yang bisa dikerjakan tanpa mengubah status kerja siapa pun.
Di sinilah cara kerja Employee Assistance Program menjadi relevan. Riliv dirancang agar dukungan psikologis bisa diakses seluruh tenaga kerja lewat kanal keseharian seperti WhatsApp, dengan pendekatan berbasis AI yang menurunkan hambatan untuk mulai bicara. Model seperti ini cocok untuk tenaga kerja yang tersebar, frontline, atau berstatus tidak tetap, dan didukung konselor lokal berbahasa Indonesia yang memahami konteksnya. Riliv memposisikan diri sebagai lapisan akses dan dukungan, bukan pengganti kepastian kerja atau terapi jangka panjang. Sampai saat ini Riliv telah melayani lebih dari 3.100 organisasi dan sekolah di Indonesia, terdaftar sebagai PSE di Kominfo, dan terpilih masuk Sandbox Kemenkes. Untuk memilih penyedia secara objektif, panduannya ada di artikel soal apa itu EAP dan bagaimana cara kerjanya.
Apakah karyawan kontrak dan outsource benar-benar lebih rentan secara mental? Ketidakpastian kerja yang mereka hadapi itulah yang membuat rentan, dan bukti menunjukkan job insecurity menaikkan risiko kecemasan dan depresi dengan pola dosis-respons. Menariknya, rasa tidak aman merugikan karyawan tetap maupun tidak tetap dengan besar efek yang serupa, jadi ini soal ketidakpastian, bukan status semata.
Apa bedanya karyawan kontrak dan outsource? Karyawan kontrak direkrut langsung oleh perusahaan lewat PKWT dengan jangka waktu tertentu. Karyawan outsource dipekerjakan lewat perusahaan penyedia jasa pihak ketiga, umumnya untuk pekerjaan penunjang. Keduanya berstatus tidak permanen, tapi jalur hukum dan hak fasilitasnya bisa berbeda.
Apakah perusahaan wajib menyediakan dukungan kesehatan mental untuk mereka? Secara hak dasar, pekerja kontrak dan outsource berhak atas jaminan sosial seperti BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan. Dukungan psikologis di atas itu belum tentu diwajibkan, tapi memasukkannya adalah keputusan kebijakan yang masuk akal secara moral maupun bisnis, mengingat dampak ketidakpastian pada performa dan retensi.
Kenapa mengabaikan kesejahteraan mereka merugikan perusahaan? Karena mereka sering berada di garis depan dan menjadi wajah perusahaan, sementara kelelahan mental dan rasa tidak dianggap menekan kualitas kerja, keterlibatan, dan retensi. Memperlakukan sebagian tenaga kerja sebagai lapis kedua juga mengikis kepercayaan seluruh organisasi.
Apa langkah pertama yang paling mudah diambil HR? Memperluas cakupan program kesejahteraan yang sudah ada, seperti EAP dan konseling, agar mencakup karyawan kontrak dan outsource. Langkah ini bisa diputuskan tanpa mengubah status kerja siapa pun.
Artikel ini menyinggung tekanan yang dapat memengaruhi kesehatan mental. Kalau kamu atau rekan kerja merasa cemas atau kewalahan secara berkepanjangan, berbicara dengan psikolog atau konselor bisa membantu. Layanan Sehat Jiwa Kemenkes dapat dihubungi di 119 ext 8.
Keterbatasan yang perlu dicatat: gambaran dari data internal Riliv pada segmen ini masih terbatas dan bersifat observasional, mencerminkan karyawan yang memilih mencari bantuan lewat platform Riliv, bukan representasi seluruh karyawan kontrak dan outsource di Indonesia. Data disajikan sebagai tema yang muncul dalam praktik EAP on-the-ground, bukan hasil studi terkontrol yang representatif secara statistik.
Karyawan kontrak dan outsource memikul satu beban yang jarang diakui, yaitu hidup dalam ketidakpastian sambil terus diminta membuktikan diri. Ketidakpastian itu adalah kondisi kerja yang terbukti menekan kesehatan mental, bukan soal karakter atau rasa syukur. Ketika perusahaan menikmati hasil kerja mereka, mengeluarkan mereka dari perhatian kesejahteraan adalah pilihan yang keliru secara moral sekaligus mahal secara bisnis. Langkah paling berarti sederhana: berhenti menjadikan status kerja sebagai syarat untuk layak didukung. Kalau kamu ingin melihat bagaimana EAP bisa menjangkau seluruh tenaga kerja tanpa membedakan status, pelajari cara kerja EAP Riliv untuk perusahaan di sini.
Rujukan dan Sumber Otoritas

52% karyawan melaporkan mengalami burnout kronis. Tapi tanda-tandanya di level organisasi sering terlewat oleh HR. Artikel ini mengulas 7 sinyal yang perlu kamu perhatikan sebelum terlambat.

Kehilangan satu karyawan bisa menelan biaya setara 6-9 bulan gajinya. Artikel ini membahas 6 strategi berbasis data untuk menekan turnover, termasuk peran penting kesehatan mental dan EAP.

ESOP dijanjikan sebagai insentif masa depan, tapi buat banyak karyawan startup, opsi saham ini justru jadi sumber cemas baru. Ini alasannya dan peran HR di dalamnya.

Teknisi lapangan menanggung target SLA, mobilitas tinggi, dan komplain pelanggan tanpa banyak dukungan dari tim kantor. Ini dampaknya dan yang bisa dilakukan HR.