Diawasi olehLogo
← Kembali ke Glossary

Kecanduan Kerja (Workaholism)

Lanjutan
Juga dikenal sebagai: Workaholic

Dorongan kompulsif untuk bekerja berlebihan secara terus-menerus, melampaui tuntutan pekerjaan, hingga mengorbankan kesehatan, hubungan, dan kesejahteraan.

Apa Itu Workaholism?

Workaholism adalah pola kerja kompulsif di mana seseorang merasa terdorong untuk bekerja berlebihan secara terus-menerus, bahkan ketika tidak diperlukan, hingga mengabaikan aspek lain kehidupan. Berbeda dari sekadar bekerja keras atau berdedikasi, workaholism ditandai oleh ketidakmampuan untuk berhenti dan kecemasan ketika tidak bekerja.

Relevansi untuk Karyawan Indonesia

Dalam budaya kerja yang sering mengagungkan 'hustle' dan lembur sebagai tanda loyalitas, workaholism mudah disalahartikan sebagai kebajikan. Data Riliv menunjukkan beban kerja berlebih dan ketidakmampuan memisahkan kerja dari hidup sebagai pola yang berulang — 'cuti seperti tidak cuti, libur seperti tidak libur'. Workaholism sering menjadi jalur menuju burnout dan masalah kesehatan.

Tanda-Tanda yang Perlu Diperhatikan

  • Bekerja jauh melampaui yang dibutuhkan secara kompulsif
  • Cemas atau bersalah ketika tidak bekerja
  • Mengorbankan tidur, kesehatan, dan hubungan demi kerja
  • Sulit mendelegasikan dan melepaskan kontrol
  • Identitas diri yang sepenuhnya terikat pada pekerjaan
  • Mengabaikan tanda-tanda kelelahan tubuh

Apa yang Bisa Dilakukan

Mengatasi workaholism membutuhkan pemeriksaan ulang hubungan seseorang dengan pekerjaan dan sering kali dukungan profesional, karena akarnya bisa berupa kecemasan atau kebutuhan validasi. Pada level organisasi, kultur yang menghormati batasan — tidak mengirim pesan kerja di luar jam, menghargai cuti yang benar-benar diambil — mencegah normalisasi workaholism.

Catatan: Glossary ini bersifat edukatif dan bukan pengganti diagnosis atau penanganan profesional. Jika kamu atau rekan kerjamu sedang dalam tekanan berat, hubungi layanan kesehatan jiwa Kemenkes di 119 ext 8, atau bicara dengan psikolog berlisensi.

Rujukan & Sumber Otoritas

  1. Oates (1971) — coinage 'workaholic'; Schaufeli et al. (2009)
  2. Andreassen et al. (2014) — work addiction scale (PLOS ONE)
  3. Data internal Riliv Problem Taxonomy v1.0 (2026)

Klaim berbasis data Riliv merujuk pada Clinical Evidence Riliv (Riliv Problem Taxonomy v1.0, 2026 — n=1.241 sesi konseling DASS-21 + 9.806 survey, 28 perusahaan).

Riliv — Better Mind, Better You

Kamus ini disusun Riliv sebagai sumber edukasi kesehatan mental kerja untuk HR, pemimpin, dan karyawan Indonesia. Data riset bersumber dari Riliv Problem Taxonomy v1.0 (2026): analisis 1.241 sesi konseling ber-DASS-21 dan 9.806 survey response dari 28 perusahaan klien Riliv lintas 8 kluster industri.

Butuh bantuan? Layanan kesehatan jiwa Kemenkes: 119 ext 8. Untuk dukungan kesehatan mental karyawan di organisasimu, kunjungi riliv.co.

Catatan metodologis: angka prevalensi (mis. 69,4% Anxiety Severe+) berasal dari populasi karyawan yang sudah mencari bantuan konseling, bukan populasi karyawan Indonesia umum. Glosarium ini bersifat edukatif dan bukan pengganti diagnosis atau penanganan profesional.